Friday, May 23, 2008

BLT atau SUBSIDI?

Hari-hari terakhir banyak sekali yang ribut soal BLT, mulai dari tukang ojek didepan rumah, tukang gorengan keliling, sopir angkot sampai capres-capres, bupati bahkan MUI gak mau ketinggalan. Kata MUI, BLT haram....

Padahal menurut saya sama saja. Sama-sama dapet subsidi. Sama-sama dapet duit negara buat ngeringanin beban hidup. Sama-sama tangan ini menengadah keatas minta duit dari pemerintah.....CMIIW

Dapet BLT berarti dapet subsidi, yang katanya bisa membuat mental bangsa ini jadi mental pengemis. Oke saya setuju pendapat itu, pengemis sudah terlalu banyak dijalan, distasiun, dipasar, dimana-mana. Malah kata orang pengemis itu sudah menjadi salah satu jenis pekerjaan yang menghasilkan lho. (maaf, anak kecil pengemis di stasiun kota pernah saya tanya, sehari dia bisa dapet Rp 50.000,-... wow!!! lebih dari UMR ya?)

Nah, kalau BBM tidak dinaikkan, berarti rakyat juga tetap dapet subsidi kan? Malah subsidinya bertambah besar dan tidak merata, cuma subsidinya dalam bentuk yang tidak kasat mata/tidak langsung (BTLTT = Bantuan Tidak Langsung Tidak Tunai)

Nah kalo gitu kan berarti sama-sama menjadi bermental pengemis donk... pemikiran orang bego seperti saya kan seperti itu... CMIIW :)

Nah, sampai disini harus diluruskan arti kata subsidi kayak yang dibilang sama Oom Kwik Kian Gie.

Kalau pilihannya BBM tidak dinaikkan, selain ada efek positif yaitu rakyat tenang, harga tidak bergejolak, namun akan banyak menyebabkan efek samping yang tidak enak. Contohnya seperti apa?

Karena selisih harga BBM dalam negeri njomplang abis sama harga normal di luar negeri, yang pasti ada Penyelundupan BBM, pasti makin marak. Negara rugi, rakyat juga rugi.

Trus subsidinya juga banyak yang tidak tepat sasaran, yang naik mercy, bmw tetep aja dapet subsidi yang seharusnya buat rakyat yang tidak mampu....Rakyat kecil rugi, Negara juga rugi. Kecuali kalau dibuatkan SmartCard untuk memantau konsumsi BBM seperti di Malaysia (MyKad).

Ngomong-ngomong kita udah ketinggalan jauh dari Malaysia yah???
Maaf, saya bukan ahli ekonomi, jadi rasanya 2 alasan diatas cukup logis/masuk akal bagi orang yang tidak berpendidikan seperti saya.

Nah trus gimana donk supaya mental bangsa ini bisa maju dan bersaing dengan orang luar?

Dengan berpikir positif, Terima kenaikan harga BBM (udah bagus masih dapet subsidi walaupun cuma dikit ) dan kemudian Tolak BLT, dana yang seharusnya untuk BLT diberikan melalui program pengentasan kemiskinan & pengangguran (program padat karya).
Cari duit lebih banyak, lebih kerja keras atau lebih smart, atau cari kerjaan sampingan (side job), dagang kecil-kecilan. Orang kalau mau berusaha pasti bisa dapat jalan keluar. Pengeluaran boleh bertambah penghasilan juga harus bertambah.

Nah, buat pemerintah, sudah saatnya diterapkan pajak progresif, terutama pada pajak kepemilikan kendaraan. Bagi yang mobil/motornya udah lebih dari satu maka pajaknya berlipat kali ganda, toh mereka yang punya mobil lebih dari satu berarti punya duit lebih.
Selain membantu keuangan negara, mengurangi konsumsi BBM dalam negeri juga mengurangi kemacetan lalu lintas serta membantu mengurangi pemanasan global akibat polusi kendaraan bermotor!!

Yaah... mungkin Anda nggak setuju dengan pendapat saya, ya nggak apa-apa. Yang penting unek-unek saya yang ngganjel selama ini udah lepas .... byaaar.... Enteng dech... hehehehe....

Oh iya saran buat mahasiswa yang pada demo, hati-hati banyak penyusup tuch...
Kalian kelihatan jelek kalau lagi pada demo apalagi pas bentrok sama polisi, malu saya ngelihat mahasiswa pake otot bukan pake laptop...

Powered by ScribeFire.

No comments: